Rabu, 01 Januari 2014

Tugas Softskill Bahasa Indonesia 2_Cerpen



Aku sayang Ibu

Bingung, kesal, marah, kecewa, sedih. Itulah yang kurasakan saat ini. Belakangan ini hubungan ku dan Ibuku semakin buruk. Kami semakin sering bertengkar. Entah apa penyebab pastinya, mungkin keegoisan masing-masing yang membuat semua keadaan ini semakin tak terkontrol. Ibuku yang selalu berpikir kalau aku yang selalu membantah dan tak penurut, dan aku yang selalu berpikir kalau Ibu tak pernah mengerti aku. Ada saja hal yang membuat kami bertengkar dan merasa bahwa diri sendirilah yang paling benar.

Aku selalu berpikir bahwa Ibu tak pernah adil, dia selalu menyudutkan ku dan selalu membela kakak dan adik ku. Kesal, sangat kesal. Rasanya ingin teriak sekencang-kencangnya dan berbicara padanya bahwa ini semua tak adil. Tapi apa daya ku, karna aku tahu jika aku mengatakan seperti itu keadaannya justru akan semakin buruk dan Ibu akan semakin marah padaku.

Hari senin itu, selekas aku pulang kuliah tanpa basa-basi Ibu langsung menyuruh ku untuk membantunya membersihkan rumah.
“ Kamu sudah pulang ya.. ayo cepat bantu ibu membersihkan rumah.”
“Aku cape bu! Aku baru aja sampe rumah. Belom juga istirahat tapi Ibu langsung nyuruh aku ini-itu!” seru ku dengan emosi yang tak terkontrol, aku pun marah-marah dan membentak ibu.
“Kamu pikir kamu aja yang cape?! Ibu juga!” Ibuku pun membentak.

Dan seperti biasa, emosi dibalas dengan emosi, tanpa kusadari air mata ini menetes, lagi dan lagi kekesalan ini hanya bisa kupendam. Sering ku berpikir entah mengapa Ibu tak pernah sedikit saja mengerti kondisi ku.

Dengan rasa kekesalan dan air mata aku pun tetap membantu Ibu membersihkan rumah, dan aku melakukannya tanpa komunikasi sedikit pun dengan Ibu. Selesai aku mengerjakannya aku bergegas mandi dan langsung mengurung diri dikamar. Tanpa kusadari waktu sudah menunjukkan pukul 17:30, Ayahku pulang. Selekas dia mandi dia pun langsung menonton tv ditemani Ibu. Ibu pun menceritakan kejadian tadi siang selekas aku pulang kuliah dan dengan cerita yang dilebih-lebihkan. Aku mendengarnya dari dalam kamar tapi aku hanya bisa diam dan sambil menahan emosi.

Setelah sekian lama mereka berbincang, Ayah memanggil ku untuk makan malam bersama.
“Nak.. ayo cepat keluar, kita makan malam” kata Ayah.
“Iya Yah.. tunggu sebentar” Aku pun keluar dari kamar dengan wajah yang kusam.

Saat itu Ibu tidak ikut makan malam, dia langsung masuk ke kamar untuk menonton tv. Di meja makan sebelum kami mulai makan Ayah menanyakan apa yang terjadi padaku,
“Kamu kenapa? Ada masalah lagi dengan Ibu?” tanya Ayah sembari tersenyum.
“Hmm.. iya Yah” dan dengan menahan air mata aku pun menceritakannya.  
“Kamu tahu sifat Ibu mu seperti itu, seharusnya kamu bisa mengalah. Doa kan saja Ibumu bisa berubah lebih baik. Kalau dia yang tidak bisa berubah, kamu yang harus berubah. Berubah lebih sabar lagi” Ayah pun menasehati ku dengan nada yang begitu lembut sehingga membuat ku tak dapat lagi menahan air mata.

Setelah itu kami langsung melanjutkan makan malam dan setelah selesai aku pun langsung masuk ke dalam kamar. Aku merenung, bagiku itu adalah salah satu alasan mengapa aku lebih menyayangi Ayah dibanding Ibu. Dia lebih sabar dan jarang sekali membentak. Dan prinsip dari Ayah yang paling aku suka adalah “mendidik anak tidak perlu dengan kekerasan, tapi dengan kasih sayang”. Itulah yang membuat rasa sayang ini semakin dalam padanya.

Namun pernah terlintas dalam pikirku, jika aku lebih menyayangi Ayah dibanding Ibu, tidakkah aku sama dengan Ibuku? Mempunyai sifat yang pilih kasih? Namun aku langsung mengabaikan pemikiran itu dan memang tak ku pungkiri aku lebih menyayangi Ayah.

Malam pun berlalu, hari berlanjut seperti biasa. Dan seperti biasa pula setiap harinya pasti selalu ada pertengkaran antara aku dan Ibu, entah itu pertengkaran besar atau kecil dengan berbagai alasan. Sampai suatu hari, keadaannya semakin kacau, semakin parah, semakin tak terkendali.

Aku semakin tak dapat menahan kekesalan dalam diriku, sampai kami pun bertengkar.
“Itu ada pisau Bu, bunuh saja aku!”
  Ibu pun kaget dan terdiam mendengar perkataan ku.
“Atau perlu aku pergi dari rumah ini aja sekarang?!” aku pun melanjutkan.
“Kamu ga usah macam-macam ya! Masuk kamar sekarang!” bentak Ibu.

Aku pun lari ke dalam kamar dan hanya mengurung diri dengan tak hentinya aku menangis.

Tak lama kemudian Ayah pulang dan mengetahui kejadian tersebut, mungkin Ayahku pun sudah pusing melihat peristiwa ini yang selalu saja terus terjadi. Maka selepas dia mandi dia memanggil aku dan Ibu. Dan malam itu terjadilah semacam persidangan, sidang antara aku dan Ibu, dimana tersangkanya adalah aku dan Ibu, dan Ayah yang menjadi hakim nya.

Aku terus menangis dan menangis, sedangkan Ibu hanya bisa diam tertunduk. Dan Ayah pun memulai persidangan itu dengan menanyakan terlebih dahulu kepada Ibuku tentang apa yang terjadi.
“Ada apa lagi sih Bu? Setiap hari pasti ribut terus.” Tanya Ayah
“Dia tuh susah diatur Yah, memberontak terus. Setiap disuruh pasti ngomel, dia pikir hanya dia yang cape, saya juga cape!”
“Tapi segala sesuatu ga pake marah-marah bisa kan Bu? Anak juga ga suka kalau dibentak terus. Bilangin baik-baik dia juga pasti ngerti kok, Ayah yakin!”

Lalu lanjut Ayahku meminta aku untuk mengeluarkan semua apa yang ada didalam hatiku, aku pun mencurahkannya,
“Aku kesal Yah, Ibu itu pilih kasih! Ibu tuh ga pernah ngerti! Seenggaknya kalo aku baru sampe rumah setelah pulang kuliah dikasih waktu dulu buat istirahat, baru disuruh-suruh” “Kamu juga harusnya lebih ngerti dong, Ibu juga kan cape karna udah kerja. Jangan hanya mau dimengerti, tapi harus mengerti kondisi orang lain juga. Intinya kalian itu harus saling mengalah, saling membantu dan jangan egois. Ayah harap kamu dan ibu tidak bertengkar lagi!” kata Ayahku menutup pembicaraan.

Setelah kejadian itu berlalu, esok paginya aku dan Ibu hanya bisa saling diam. Tak menyapa, tak ada komunikasi. Kami menjalaninya masing-masing, acuh tak acuh. Waktu berlalu dan saat siang hari, entah mengapa tiba-tiba seluruh badanku terasa sakit, seperti remuk. Kepala ku pun sangat sakit. Aku mencoba untuk tak memberitahu kepada Ibu dan aku berusaha untuk mengurus semuanya sendiri. Aku pun beristirahat, tapi diluar dugaan ku setelah aku beristirahat badan ku tetap sakit, justru lebih sakit dari sebelumnya. Aku pun hanya bisa menahan sakit dan menangis di dalam kamar. Tiba-tiba Ibu masuk ke dalam kamar dan melihat keadaanku, ibuku pun langsung panik dan segera membuatkan ku teh hangat dan memberi aku obat, setelah itu dia memijat badanku.

Aku pun terlelap, waktu sudah malam dan aku bangun, aku bangun hanya untuk makan malam dan mimum obat lalu aku melanjutkan tidur kembali.

Esok paginya saat aku masih terlelap Ibu pun membangunkan ku sambil mengelus kepalaku dan menanyakan
“Kamu masih sakit nak? Kamu bangun yah, sarapan dulu, minum obat lalu istirahat lagi.”

Dan saat itu aku hanya bisa menangis. Menangis karena mengingat semua perlakuan ku selama ini terhadapnya, perlakuan yang tidak baik, yang tidak pantas dilakukan terhadap seorang Ibu. Tak pernah terlintas dalam pikirku jika Ibu begitu perhatian kepada ku, menurut ku selama ini aku sudah salah menilai Ibuku sendiri. Hanya melihat dia dari segi kekurangannya saja. Pikirku saat itu, tak ada aku memikirkan kondisi ku, yang aku pikirkan hanyalah betapa bersalahnya aku selama ini terhadap Ibu.

Selama aku sakit dia merawat ku, sambil merawat ku dia tetap berangkat untuk bekerja, setelah pulang bekerja dia melihat kondisi ku terlebih dahulu, memberi ku makan dan obat, dan langsung mengerjakan pekerjaan rumah. Semua dilakukannya sendiri, karena Ayah dan kakak ku selalu berangkat pagi dan pulang sore atau bahkan malam untuk bekerja dan adik ku pun berangkat pagi dan pulang sore untuk sekolah. Aku pun hanya bisa berbaring sambil menangis, tak tega rasanya melihat dia mengerjakan semuanya sendirian, tanpa istirahat, dan tanpa mempedulikan kesehatannya sendiri. Tapi semua tetap dikerjakannya tanpa mengeluh sedikit pun.

Sampai beberapa hari kemudian, keadaan ku pun membaik, aku sudah dapat beraktivitas seperti biasa, dan sesuai dengan janjiku saat aku sakit, aku tak kan mengecewakan Ibuku lagi, semampu ku aku akan lakukan yang terbaik yang bisa aku lakukan untuknya. Mulai saat itu aku mulai berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menyakiti hatinya lagi, untuk membantu dia melakukan pekerjaan rumah dan berusaha untuk selalu siap jika dia membutuhkan pertolonganku.

Keadaan pun berangsur membaik, kami melakukan aktivitas kami masing-masing seperti biasa. Seiring berjalannya waktu, Ibuku pun semakin disibukkan dengan pekerjaannya, dan sebelum dia berangkat untuk bekerja dia selalu menyempatkan diri untuk melakukan beberapa pekerjaan rumah, mungkin karena keadaan itulah yang membuat Ibuku menjadi jatuh sakit.

Kondisinya pun sangat lemah, dan karena sakitnya itu dia tidak bekerja beberapa hari, dirumah pun dia tak dapat mengerjakan apa-apa. Aku hanya bisa menangis, tak tega melihat ibu yang kusayangi hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur.

Dan saat itulah aku yang menggantikan posisinya sementara, jika aku kuliah siang, paginya aku sudah membereskan rumah terlebih dahulu, dan menyiapkan makanan untuk ibu dan merawatnya. Merawatnya menjadi salah satu cara ku untuk membalas semua kebaikan dia untukku.  Dan aku tak pernah mengeluh sedikit pun walaupun aku harus terus bekerja untuk membantu dan kuliah.

Kondisi kesehatan Ibu semakin membaik, betapa senangnya hatiku melihat Ibu sudah sehat seperti biasa, sudah dapat beraktivitas dan mulai bekerja lagi.

Bukan hanya kondisi kesehatan Ibu yang membaik, keadaan hubungan kami pun semakin membaik, kami sering bercanda bersama, menghabiskan waktu bersama, saling bercerita dan belanja bersama. Dan dalam hal pembagian pekerjaan dirumah, kami pun semakin membantu satu sama lain. Saling berusaha untuk mengerti kondisi yang lain dan berusaha untuk tidak memaksa. Ayah pun selalu tersenyum melihat hubungan kami yang membaik, dan aku berharap hubungan ini akan terus membaik.

Dan dulu, aku berpikir bahwa aku lebih menyayangi Ayah dibanding Ibu, tapi sekarang tak ada yang lebih ataupun kurang, semuanya sama. Besarnya rasa sayang ku terhadap Ayah dan Ibu sama, dan aku pun yakin kasih Orang tua terhadap semua anaknya sama, tak ada pilih kasih.

Aku pun meminta maaf kepada Ibu atas semua perlakuan buruk ku dulu kepada dia, “Maafkan aku Ibu, maafkan aku karna selama ini aku selalu menyakiti mu atas perilaku ku.” “Ibu juga minta maaf ya nak, maaf atas semua kesalahan ibu”
“Iya Bu, Terimakasih ya Bu buat semua kasih sayangmu, aku sayang Ibu sekarang dan selamanya” Kataku sambil tersenyum.
 “Ibu juga nak, Ibu akan terus dan selalu menyayangimu..” Jawab Ibu sambil memeluk ku.

Tugas Softskill Bahasa Indonesia 2_Jenis Karangan



1.                  Karangan Narasi
Karangan narasi ialah karangan yang menyajikan serangkaian peristiwa yang biasanya   disusun  menurut  urutan  waktu. Yang termasuk narasi ialah cerpen, novel, roman, kisah perjalanan, biografi, otobiografi.

Karangan narasi secara umum dibagi menjadi dua macam, yaitu :
1.    Narasi nonfiksi adalah narasi atau cerita yang benar-benar terjadi, misalnya cerita kepahlawanan atau perjuangan, seperti cerita Pangeran Diponegoro, biografi atau autobiografi seseorang, dan riwayat perjalanan.
2.    Narasi sugestif adalah narasi atau cerita yang menonjolkan khayalan sehingga pembaca terkesan atau tertarik dan seakan-akan terhanyut, bahkan merasa mengalami cerita tersebut.

Ciri-ciri/karakteristik karangan Narasi :
a.  Menyajikan serangkaian berita atau peristiwa
b. Disajikan dalam urutan waktu serta kejadian yang menunjukkan peristiwa awal sampai       
    akhir
c. Menampilkan pelaku peristiwa atau kejadian 
d. Latar (setting) digambarkan secara hidup dan terperinci 
e. Unsur pikiran lebih tajam dibandingkan unsur perasaan

2.                  Karangan Deskripsi
Karangan Deskripsi ialah karangan yang menggambarkan atau melukiskan sesuatu seakan-akan pembaca melihat, mendengar, merasakan, mengalaminya sendiri.

Tujuan karangan deskripsi :
a.         Melukiskan hakikat objek yang sebenarnya untuk memperluas pengetahuan dan pengalaman pembaca
b.        Menyampaikan sesuatu dengan memberikan detail atau perincian tentang objek
c.         Mempengaruhi imajinasi dan sensitivitas pembaca untuk ikut merasakan, mendengar, melihat apa yang dialami pengarang atau penulis 

Ciri-ciri / karakteristik karangan deskripsi :
  a.  Melukiskan atau menggambarkan suatu objek tertentu
  b.  Bertujuan untuk menciptakan kesan atau pengalaman pada diri pembaca agar seolah-     
       olah mereka melihat, merasakan, mengalami atau mendengar, sendiri suatu objek yang        
       dideskripsikan
c.    Sifat penulisannya objektif karena selalu mengambil objek tertentu, yang dapat berupa    
       tempat, manusia, dan hal yang dipersonifikasikan
d.   Penulisannya dapat menggunakan cara atau metode realistis (objektif), impresionistis
      (subjektif), atau sikap penulis

3.                Karangan Eksposisi
        Karangan Eksposisi adalah bentuk karangan yang memaparkan, memberi keterangan, menjelaskan, memberi informasi sejelas-jelasnya mengenai suatu hal.

Ciri-ciri/karakteristik karangan Eksposisi :
  a.  Menjelaskan informasi agar pembaca mengetahuinya
  b.  Menyatakan sesuatu yang benar-benar terjadi (data faktual)
  c.  Tidak terdapat unsur mempengaruhi atau memaksakan kehendak
  d.  Menunjukkan analisis atau penafsiran secara objektif terhadap fakta yang ada
  e.  Menunjukkan sebuah peristiwa yang terjadi atau tentang proses kerja sesuatu

4.            Karangan Persuasi
      Karangan Persuasi adalah karangan yang tujuannya untuk membujuk pembaca agar mau mengikuti kemauan atau  ide penulis disertai alasan bukti dan contoh konkrit.

Ciri-ciri/karakteristik karangan Persuasi :
a.    Penulis memahami bahwa pendirian dan pemahaman pembaca dapat diubah 
b.    Berusaha menjelaskan dan menarik kepercayaan pembaca 
c.  Berusaha menciptakan kesepakatan atau penyesuaian melalui kepercayaan antara penulis dengan pembaca 
d.  Berusaha menghindari konflik agar kepercayaan tidak hilang dan supaya kesepakatan pendapatnya tercapai 
e.    Menunjukkan fakta-fakta dan data untuk menguatkan argumentasi atau dalil

5.        Karangan Argumentasi
      Karangan Argumentasi adalah karangan yang isinya bertujuan meyakinkan atau mempengaruhi pembaca terhadap suatu masalah dengan mengemukakan alasan, bukti, dan contoh nyata.

Ciri-ciri/karakteristik karangan Argumentasi :
a.    Berusaha meyakinkan pembaca akan kebenaran gagasan pengarang sehingga
       kebenaran itu diakui oleh pembaca
b.   Pembuktian dilengkapi dengan data, fakta, grafik, tabel, gambar 
c.   Dalam argumentasi pengarang berusaha mengubah sikap, pendapat atau pandangan 
       pembaca
d.   Dalam membuktikan sesuatu, pengarang menghindarkan keterlibatan emosi dan
      menjauhkan subjektivitas
e.   Dalam membuktikan kebenaran pendapat pengarang, kita dapat menggunakan                
      bermacam-macam pola pembuktian